Untuk Tuan – Puan (2)

Tidakkah kamu merindukan alam yang mengajarimu banyak hal? Tentang keberanian juga tantangan. Ya, walau untuk urusan kehidupan, kamu masih kalah, tuan.

Jangan gegabah. Fisikmu memang tangguh. Ibu mengajari untuk selalu kuat mengalahkan puan. Hanya saja, terimalah kenyataan, bahwa memang hati dan pikiranmu tak setangguh itu, tak seberani itu.

Kita sudah pernah duduk berdua. Menangisi semuanya tersedu-sedu. Berharap bahwa malu menyatukan diri tuan-puan untuk mengulang rindu. Sudah bicara banyak, jawaban tetap pilu.

Tidakkah kamu merindukan adukan coklat dari puan? Yang katamu, rasanya tak seenak kopi pahit yang selama ini kamu teguk. Yang kataku, rasanya menenangkan seperti berada di samping tuan. Yang kata kita, beradu tentang rasa tidak pernah selesai karena lidah sudah teracuni sejak lama.

Kabarku baik, tanpa perlu kamu menanya. Air mata puan tidak lagi berhari-hari. Jika rindu begitu menggebu, Tuhan lah yang melihat air mata begitu cepat menjadi bisu. Puan minta, Tuhan bisa meredam sebuah duka. Walau pada nyata, kita hanya mengadu.

Kabarmu semoga baik, tanpa perlu ditanya. Hidup dengan lingkungan baru, menyusupi kopi-kopimu, menuliskan bab per bab yang disebut tanggung jawabmu, juga keluargamu yang pergi-kembali-pergi tanpa tahu sakitnya hatimu.

Jika benar tuan-puan, hidup adalah pilihan. Benar juga untuk, pilihan pasti beresiko. Kamu, baru hanya berani mengambil pilihan. Katamu benar. Nyatanya, kamu, belum berani dengan resikonya. Kataku, itu adalah kebenaran yang tidak pernah mau kamu katakan. Tuan-puan memang begitu, berkepala batu. Jika bisa dibunuh oleh rasa, sudah mati mereka.

Puisimu sudah sampai disini? Jika bosan, jangan lagi meminum coklat. Jika resah, jangan lagi menemui alam. Kamu membohongi keduanya dengan kata-kata. Bicara saja jika mau. Temu saja jika rindu. Atau, tahan saja semuanya sampai kembali, di sebuah puisi, untuk tuan-puan.

Bandung, Mei 2015.

10 Comments

  1. dani

    May 18, 2015 at 12:52 am

    terasa seperti sebuah teguran yang keras.. 😀

    1. fasyaulia

      May 21, 2015 at 12:36 pm

      Gitu ya? Hahaha gitu deh 😛

  2. TitinTrisnawati

    May 18, 2015 at 8:47 am

    nice poem mbak… 🙂

  3. adzhanihani

    May 19, 2015 at 11:10 am

    Cara kaburnya tuan sama kek aku; cabut-cabutan ke alam. :((
    Mau bagaimanapun akhirnya, semoga semua baik ya kak. Muah!

    1. fasyaulia

      May 21, 2015 at 12:38 pm

      Kasian alam dijadikan pelarian 🙁 harusnya ke mesjid kamu teh hahaha #bijak

  4. TIRS

    May 20, 2015 at 7:52 am

    Asoy banget ini. Dan bener kayak kata bang Dani, teguran keras. 🙂

    1. fasyaulia

      May 21, 2015 at 12:39 pm

      Ah puisi2 kamu juga asoy, apalagi semenjak punya pacar (?)

  5. Rivanlee Anandar

    May 24, 2015 at 12:28 am

    Baru baca, bagus prosanya kak. Suka

  6. cumilebay.com

    May 25, 2015 at 1:29 pm

    Kangen minum coklat hangat di temani croisant

Leave a Reply

%d bloggers like this: