Teman

Sebuah realita

Menerima atau menolak, sesungguhnya itu yang ada di depan mata

Sungguh menjadi bagian sinaran. Namun sirna

Sungguh menjadi bagian senyuman. Namun zaman

Sungguh hati nya tersentuh. Namun runtuh

Sebuah airmata

Menangisinya bukan antara sesal

Itu pertanyaan yang sudah terberai

Mengusap basah ini melebihi resah

Resah antara ketakutan, suatu saat harus mengusap kembali

Sebuah ingatan

Jelas saja bukan bayangan

Memori langkah kecil dengan terharu diatas aspal

Memori tiga jari renyah dibagikan bersama

Memori cacian peran dunia menyapu malu

Percayalah, bibir kecil ini masih menjaga sebuah citra

Keliru.

Kemana.

Teruntuk, sebuah pertemanan yang pernah terjalin antara beberapa orang. Mengalami kebahagiaan, konflik, dan perpisahan. Semoga saya, tetap mempunyai prinsip atas nama itu. Begitupun kalian.

1 Comment

  1. GustiFullah

    December 16, 2013 at 12:31 am

    postingan puisi pertama di blog kamu, sya? hmmm, awal mula yang bikin aku ketagihan mampir ke blog kamu ternyata postingan ini. 😐

Leave a Reply

%d bloggers like this: