Sebab aku menulis puisi

Untuk pertanyaan Didik Rahmadi, tentang mengapa aku menulis puisi. Maka terjawab pada lampiran surat yang sudah terkirim ke kota nya, juga melalui halaman ini. Ada yang bilang bahwa hidup adalah mengumpulkan kenangan. Bisa jadi benar ada nya. Menyimpan sesuatu yang kita susun untuk sebuah ingatan […]

Read more

Ketahuilah tentang cinta

Ketahuilah, perempuan yang menangis karena sakit dan lelaki yang menangis di setiap sujud. Saya cinta, tak perlu saya katakan setiap kali. Karena saya tahu, doa mu selalu menghantarkan setiap kaki ini melangkah menemui mimpi. Saya cinta, tak perlu saya terjemahi dengan kata yang lain. Karena […]

Read more

Perjalanan manusia

Entah sudah berapa malam yang habis oleh sisa-sisa kenaifan. Diantaranya tercecer seperti debu yang bersarang di sudut jendela yang mengerak. Entah sudah kali keberapa kita dimanjakan dengan dunia yang penuh prasangka. Menuduh, dituduh, mengelabui, didustakan, dihina, dibuang, bahkan mati bersama tanah bermandi darah. Jejak bukan […]

Read more

Wanita pecinta lampu

Kota ini dipenuhi hiasan Jika malam tiba, gelap menjadi ketenangan, titik-titik terang menjadi keriangan Lampu yang jauh Berjajar tak beraturan sesuai dudukannya Ada wanita yang jiwanya pernah rapuh Terbangun kembali bersama asanya Kota ini dipenuhi keindahan Salah satunya, kabut yang dirindukan Samar-samar, lampu menghiasi kota […]

Read more

Pertama

Kamu adalah yang pertama Menyisipkan pundi-pundi bertajuk cinta dalam surat bait utama Kamu tidak menjadi yang kedua Menelusuri setiap pijakan cerita yang hadir dalam sua Kamu juga bukan yang ketiga Mempelajari jarak agar tak mudah dijangkau dengan lega Kamu penulis yang mampu menempatkan pembaca di […]

Read more

Rumah dan tetangga

Rumah gaduh. Di luar berisik tak terkira gunjang-ganjing tetangga ribut. Di dalam juga sama. Barang lempar sana lempar sini. Rumah tak tenang. Genteng sudah berasap hitam pekat. Lantai sudah berduri menyisa perih. Kaki dan kepala tidak ada komunikasi mencari arah. Kamu lihat apa sekarang? Tangan […]

Read more

Hujan yang berdiam diri

Malam pun berbicara tentang bau matahari. Malam ikut merindukan hawa dingin yang merajai. Tidak seperti ini. Hanya keluhan dan sorotan tajam dari mu, dari cahaya juga udara yang menari-nari bahagia sekali. Tanah-tanah depan rumah selalu disiram Ibu. Jika siang terlihat sekali berdebu. Dari aspal jalanan, […]

Read more

Sekilas Serupa

Bahkan anak kembar pun, tentu ada bedanya. Misalnya perihal rasa suka. Jika gerbang sekolah yang kutemui adalah laporan lalu lintas, jawaban nya gerbang sekolah pada setiap pagi hanyalah ramai lancar. Tidak pernah terlihat ramai hingga padat bertumbuh macet, tidak pernah pula ramai hingga para pedagang […]

Read more

Prahara Kota

Mengadu pada malam. Bahwasanya siang terlalu rumit untuk dimengerti. Sedangkan pagi awal kericuhan terjadi. Matahari mulai muncul, maka mata-mata akan bangun pada jiwanya masing-masing. Setiap pagi keterbukaan akan dimulai. Sekolah membuka gerbang dan kunci-kunci kelas, juga jendela yang berdebu. Usang. Sesekali tersentuh oleh beberapa murid […]

Read more

Surat kedua

Surat diam-diam untukmu, Ini adalah kali kedua. Tentang menulis bersama tuan dibawah langit. Rasanya tetap sama tentunya. Ditambah pula dengan kata-kata dari tuan yang semakin hari, semakin terasa nikmat jika tersentuh mata. Bagaimana dengan kehidupanmu, tuan? Adakah yang berbeda setelah hujan meredakan amarah kita? Atau […]

Read more