Surat terbuka untuk tiga pulau

Surat terbuka untuk Gusti Fullah di Banjarmasin, Didik Rahmadi di Aceh, dan Adzhani di Jatinangor – Bekasi.

Hallo dan selamat membaca untuk kalian bertiga, dan untuk siapapun yang mampir di blog ini.

Ada beberapa titipan rindu dari kota Bandung untuk kalian, mengenai makanan-makanan enak, cafe menyenangkan, dan suasana kebahagiaan kota ini. Saya harap, kita bisa bertemu dan berbicara banyak mengenai hidup. Seperti yang biasa kita lakukan dalam perbincangan kata-kata di sebuah tempat maya yang dibuat oleh salah satu dari kita.

Surat ini bukan untuk menanyakan kabar, karena pertanyaan kabar bisa saya tanyakan setiap waktu. Saya mau menuliskan apa yang saya rasakan juga pikirkan, tidak ada ruang yang lebih luas untuk menyimpan kata-kata untuk kita selain disini, blog. Walau sebenarnya, semesta lebih luas cakupan nya untuk mengurung setiap kata dan kalimat yang pernah ada. Tapi saya lebih percaya disini, tentu dengan orang-orang baik yang mata nya rajin membaca halaman perhalaman.

Ada satu dua hal yang akan saya sampaikan pada kalian.

Tahun lalu di bulan ini, bulan Ramadhan. Saya, Gusti, Hani, dan Dhani (pacar Hani) melakukan kegiatan menyenangkan di ruang ini dan media sosial. Menulis puisi bersama untuk event Duet Puisi. Iya duet, dan harus pasangan, maksudnya harus perempuan – laki. Saya dengan Gusti. Hani dengan Dhani. Setelah menulis berhari-hari, kita bertukar pasangan menulis. Tuntutan nya begitu waktu itu. Tidak ada Didik? Iya tidak ada, dia gak ikutan. Mungkin buat dia event ini gak ada apa-apa nya hahaha.

Saya hanya mau mengingatkan pada kalian, bahwa sejak Ramadhan tahun lalu semua terasa lebih hangat. Berawal dari saya bicara tentang event duet puisi dengan Gusti, kemudian bersama Hani, dan muncul Didik yang tiba-tiba hadir di layar hp.

Dalam event tersebut, kita semua tidak menang. Ada ratusan orang, ratusan tulisan, dan puluhan pasangan yang tulisan nya bagus-bagus. Saya akui itu. Hadiah yang diberikan pun hanya berupa sepaket buku, sederhana. Ada kabar simpang siur mengenai seluruh tulisan akan di buku-kan, sampai pada akhirnya tidak jadi karena tidak ada biaya. Biarlah. Walau saya berharap menjadi kenyataan, akhirnya saya tidak memperdulikan nya lagi. Ada sebuah pertemanan yang lebih saya pedulikan.

Sekarang, di sebuah ruang maya. Saya, Gusti, Hani, dan Didik suka bicara. Apa saja.

Saya yang menyebalkan dengan mengirimkan foto makanan-makanan di Bandung. Hani yang manja dan lucu dengan foto selfie nya saat ada kegiatan. Gusti yang suka telat respon karena mungkin disana susah sinyal, mungkin hahaha. Didik yang terkadang bijak tapi belum bisa move on dari mantan. Kalian semua ini teman berisik yang diam-diam saya doakan agar semua nya menjadi penulis, juga pembaca yang baik.

Satu tahun sudah berlalu dan saya yakin akan ada banyak cerita dari kalian yang akan saya ketahui lagi. Pun, semoga kalian sama, tidak bosan mengetahui hidup saya disini. Jangan berhenti hadir di ruang ini, tetaplah konsisten menulis, tetaplah mengingatkan untuk menulis, dan tetaplah happy dengan kehidupan kalian disana. Walau saya tahu kita semua punya permasalahan masing-masing.

Semoga waktu dan semesta mengetahui tentang kita dan mempercepat sebuah pertemuan di ruangan dengan aroma kopi dan coklat, di kota ku juga kota kalian.

Setelah selesai membaca, saya akan menunggu surat balasan secara terbuka di blog. Gusti, Hani, dan Didik. Semoga saya tidak lama menunggu.

Salam cinta dari Bandung, untuk kalian.

17 Comments

  1. TIRS

    July 21, 2014 at 12:15 pm

    Gua boleh ikutan salam cinta juga gak, Sya?

    1. fasyaulia

      July 26, 2014 at 3:18 pm

      Boleh. Buat siapa? Mau request lagu apa kakak? *on air radio*

  2. Rizqi Fahma

    July 21, 2014 at 12:24 pm

    Ada yang lagi rindu nih 😎

    1. fasyaulia

      July 26, 2014 at 3:09 pm

      Iya nih, rindu berharap temu! 😛

  3. arip

    July 21, 2014 at 2:25 pm

    Semoga dipertemukan dalam spektrum ruang dan waktu yg sama.
    Bandung, I’m back!

  4. Dongeng Tentang Surat yang Mengandai « erdidik.com

    July 22, 2014 at 11:18 pm

    […] itu, ia—yang sering mengesalkan atas karena keseringan berkirim foto makanan—mengirimkan “Surat Terbuka Untuk Tiga Pulau” untuk aku (yang sebenarnya lebih tepatnya kami—karena tercantum namaku, Hani, […]

  5. Surat Dari Banjarmasin Untuk Pulau Seberang | Gusti Fullah

    July 23, 2014 at 5:19 pm

    […] harus mulai darimana aku menuliskannya, tapi terima kasih atas surat terbuka yang Fasya kirimkan, bagiku itu seperti segelas es teh manis di kala berbuka puasa. Kalian tau, betapa aku seperti mati […]

  6. erdidik

    July 24, 2014 at 1:04 am

    terima kasih Fasya ((: eh kotak suratku masih luang untuk kamu kirimi lagi. jangan kapok ya cantumin namaku di surat-suratmu berikutnya.

    1. fasyaulia

      July 26, 2014 at 3:11 pm

      Jangan kapok juga ngajak menulis aku ya Didik 🙂

      1. erdidik

        July 29, 2014 at 7:41 pm

        bahkan setelah baca komentarmu ini, Fasya, aku berfikir akan kapok jika aku berhenti dari menulis; atau membalas surat-surat kamu/bahkan kalian. terus, apa yang kamu fikirkan setelah ini? apa ingin mengajakku menulis lagi? aku menunggu.

  7. Segelas Perasaan | adzhanihani

    July 24, 2014 at 11:45 am

    […] sejujur-jujurnya, aku ngga tau mau ngasih judul surat balasan ini apa. Entah Surat Terbuka untuk Tiga Pulau seperti Kak Fasy, Dongeng Tentang Surat yang Mengandai seperti Kak R, atau Surat dari Banjarmasin […]

  8. febridwicahya

    July 26, 2014 at 9:35 pm

    ini keren. dari dunia maya kalian kenal? dan sehangat ini? Mbak Fasya, ente and the gank kece sekaleee, 🙂

    1. fasyaulia

      July 27, 2014 at 9:03 pm

      Iya dari dunia maya, tepatnya dari wordpress ini Feb. Terimakasih banyak udah muji, minta THR ya pake muji segala? Hih.

      Hahahahahaha.

      1. febridwicahya

        July 28, 2014 at 11:49 pm

        beuh. wordpress bisa menyatukan kalian berempat? absolutely. keren. aku harus bisa nyari temen banyaaaaak kayak mbak Fasya juga ah.

        iya dong mbak, mana THRnya? yah, satu makanan khas bandung yang sering mbak Fasya foto itu aja ah :p

  9. Dongeng tentang Surat yang Mengandai | erdidik.

    February 6, 2015 at 9:09 am

    […] itu, ia—yang sering mengesalkan atas karena keseringan berkirim foto makanan—mengirimkan “Surat Terbuka Untuk Tiga Pulau” untuk aku (yang sebenarnya lebih tepatnya kami—karena tercantum namaku, Hani, […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: