Surat kedua

Surat diam-diam untukmu,

Ini adalah kali kedua. Tentang menulis bersama tuan dibawah langit. Rasanya tetap sama tentunya. Ditambah pula dengan kata-kata dari tuan yang semakin hari, semakin terasa nikmat jika tersentuh mata. Bagaimana dengan kehidupanmu, tuan? Adakah yang berbeda setelah hujan meredakan amarah kita? Atau hanya rekayasa tentang cerita pelangi yang dituntun imaji tak terkendali?

Tuan tahu, aku adalah pembaca setia, maka setiap jawaban tuan akan dirasakan dalam-dalam hingga jantung ini berdebar karena keresahan. Tak pernah mengobral janji, sungguh. Definisi janji dimataku adalah kebenaran yang ditunggu waktu. Bukan definisi yang disuguhkan dalam khayalan. Dengan surat ini, aku berharap kita berada dalam satu lingkaran, satu jalan. Tidak hanya berdiam, apalagi berbisik pelan. Begitu, tuan.

Ini, tentang masa lalu yang tidak pernah kita tahu.

Ini, tentang masa depan yang juga begitu, tidak pernah kita tahu.

Kita berdua, bukan dua orang mencinta yang merangkai setiap masa dijadikan satu ke dalam realita. Bukan. Kita hanya perangkai cerita yang akan disajikan kepada manusia-manusia pemeluk masa. Di dalamnya akan kita racik sedemikian rupa, agar perasaan suka dan duka akan melebur tak terhiraukan dunia. Perihal kehidupan mereka, kita tidak berkendara di depannya, tidak juga menjadi knalpot yang mengganggu pernafasannya. Kita menyusun sedikit kata agar selalu dapat dinikmati, bersama hujan atau secangkir kopi. Bisa juga jika pagi-pagi, berselimut dingin dengan harum romansa yang serasi.

Langit hari ini cerah, mungkin awan berbincang dengan mentari tentang kita, tuan. Dipilihnya kita berdua secara acak, secara suka-suka. Dua pecinta kata yang belajar memberi makna pada yang dilihat, didengar, dipikir, juga rasa.  Tidak lupa, bahwa kekhawatiran perbedaan makna akan hadir menghimpit kita. Tuan juga merasa yang sama.

Hati kita menyelam bersama kebiruan yang dipantulkan langit, lebih dari bahagia ketika menulis surat yang lalu. Disusun setiap malam ketika pujangga yang lain tertidur dengan kedamaian dunia. Kini lebih terasa indahnya untuk dibagikan dengan tuan. Tak apalah kita berdua masih menemui langit yang sama, nanti masing-masing dari kita akan bahagia semestinya seperti rangkaian cerita yang kita tulis.

Surat ini diam-diam untukmu,

Tuan pecinta kata, tamu yang diberi Tuhan ketika menyelusup di antara ratusan manusia yang hadir.

Salam hangat dari tanah tempat ku berpijak, tuan.

Tulisan untuk Gusti Fullah – dalam rangka nulis bareng (lagi), balasan tulisan surat bisa dilihat disini.

10 Comments

  1. Agfian Muntaha

    October 23, 2013 at 11:25 am

    Kok surat balasannya eror ya?

  2. @erdidik

    October 23, 2013 at 1:31 pm

    Nona, di draft surat, namamu mengering. 🙂
    Cakepp ah. *colek Om Gusti Fullah

    1. fasyaulia

      October 23, 2013 at 5:44 pm

      Tuan, di akhir surat, namamu hadir dalam tanda peluk.

      Hahaha Gusti suka kok di colek2 =))

  3. ariesusanto

    May 14, 2014 at 2:52 pm

    Hmmm. Bagus banget kata-katanya. Jago banget. Hahahaaa.

Leave a Reply

%d bloggers like this: