Semester lima!

Kuliah semester lima ini cukup menegangkan karena semakin naik semester, mata kuliah nya semakin bener-bener membuka mata mengenai psikologi. Susah-susah gampang tapi menyenangkan. Walaupun saya bukan pribadi yang unggul dalam akademik seperti beberapa teman saya, tapi sejauh ini saya masih menikmati hal-hal tentang perkuliahan.

Sebenarnya semester lima bukan semester dimana mahasiswa memilih bidang studi untuk penjurusan psikologi. Memang pemilihan studi itu ada di semester tujuh, tapi euforia nya sudah terasa dalam semester lima. Oke, yang saya tau ada beberapa pilihan untuk kita menentukan bidang studi ini, anggaplah penjurusan nya ya. Ada psikologi klinis, psikologi sosial, psikologi industri organisasi, psikologi pendidikan, dan psikologi perkembangan. Masih harus menyelesaikan semester lima dan enam sebenernya, tapi banyak beberapa dosen yang menyarankan untuk mulai memahami bidang studi yang kita pilih, karena akan ada banyak hal yang memudahkan nantinya. Apalagi kalau kita memang berniat di bidang studi tersebut, biasanya akan lebih mudah untuk menyelesaikan hal-hal lain tentang akademik.

Kalau saya lihat senior-senior saya di semester tujuh, banyak sekali yang masih bingung untuk fix mengambil jurusan apa. Itu sih yang saya lihat dalam beberapa minggu ini, melalui status bbm ataupun linimasa twitter. Galau akademik katanya. Saya sendiri sih inginnya sudah mempunyai minat untuk memilih dalam penjurusan, walaupun masih lama tapi setidaknya kita berusaha untuk fokus dalam satu pilihan agar mudah mencapai tujuan #sadaaaap Tapi apa daya dan upaya, saya jadi ikut-ikutan pusing dan bertanya-tanya ke diri sendiri, dan ternyata saya masih belum tau minat saya kemana.

Kalau dilihat ke orientasi masa depan, saya memang punya dua perencanaan. Yaitu pengabdian dan pekerjaan. Untuk pengabdian, saya ingin bekerja tapi digaji seiklasnya, bahkan jika tidak digaji pun tidak-apa-apa, misalnya saya mengabdi untuk anak-anak di satu tempat SLB atau saya akan mengabdi untuk tetap menulis sajak. Hanya misalkan sih, tapi contohnya ya semacam begitu. Sekarang untuk pekerjaan, memang saya belum tau suatu hari nanti akan memilih pekerjaan seperti apa, kalau saya inginkan dari hati paling dalam sedalam samudera, saya tidak ingin melamar kerja. Saya ingin mempunyai lapangan pekerjaan, apapun bentuknya nanti saya memang masih belum tau, yang pasti saya merasa apakah saya harus me-la-mar-pe-ker-ja-an? Dimata saya itu sangat-sangat rumit. Seperti suatu keharusan mencari uang, tapi hati saya mengatakan tidak untuk melamar. Kalau bahasa kasarnya, saya sekolah dari sd, smp, sma, lalu kuliah, ujung-ujungnya apakah saya harus me-la-mar? Ah entahlah -____-

Balik lagi dalam pemilihan jurusan, saat ditanya oleh beberapa teman untuk memilih jurusan apa nantinya, saya hanya menjawab mungkin psikologi klinis atau psikologi sosial. Besoknya lagi saat ditanya, saya menjawab kayanya psikologi pendidikan deh. Tapi hanya sekedar jawaban mungkin dan jawaban ragu-ragu. Wajar? Ya wajar.. yang tidak wajar adalah, saat saya kembali ditanya untuk memilih jurusan, saya jawab dengan lantang dan cepat : Psikologi Sastra!

“Hanya dua tempat bertanya. Pertama tuhan kedua hati. Dari mulai hidup sampai pun mati. Timbangan insan tidaklah sama” – Buya Hamka

Sekedar berbagi.

13 Comments

  1. herrboy

    October 13, 2012 at 7:19 pm

    Psikologi sastra, mantapp!!! 😀

    1. fasyaulia

      October 14, 2012 at 9:13 am

      Hahaha seandainya ada ya her, saya mau pilih itu.

      1. herrboy

        October 15, 2012 at 10:07 am

        belajar psikologi dikampus, selalu rajin menulis sajak2 indah di blog,,,,

        1. fasyaulia

          October 16, 2012 at 7:47 am

          Iya begitulah, Alhamdulillah sesuatu.. Hahaha

          1. herrboy

            October 19, 2012 at 8:44 pm

            kalo dikumpuin semua udah bisa jadi buku tuh

  2. Teguh Puja

    October 14, 2012 at 8:02 am

    Masing-masing penjurusan itu bagus, Fasya. Dan ya semuanya juga tentu punya kelebihan dan keistimewaan masing-masing.

    Jangan sampai jadi ‘melepas’ keinginan baik hanya karena takut atau ‘terkecewakan’ dengan ekspektasi yang dimiliki sendiri. That won’t help you. 😀

    1. fasyaulia

      October 14, 2012 at 9:14 am

      Sip makasih ya saran nya teguh, semoga nanti ga salah pilih.

  3. helgaindra

    October 14, 2012 at 6:38 pm

    *oot
    ceileh themenya baru
    samaan dong udah semester 5 aja.
    psikologi sastra itu ntar jadi guru/dosen kah?

    1. fasyaulia

      October 14, 2012 at 8:41 pm

      Iya nih baru supaya fresh! dasar ya kuliah kamu aneh, tiba-tiba udah semester 5 lagi hahaha.

      sebenernya gada psikologi sastra helgaaaa.. kan itu dipilihan nya gada, fast reader ya? 😛

      1. helgaindra

        October 14, 2012 at 9:26 pm

        w baca sampe abis kali (‘.’ )

        1. fasyaulia

          October 14, 2012 at 9:30 pm

          helga jajang sunandar heeeeeee

  4. Semester enam dipinang | Aulia Fasya

    February 11, 2013 at 10:53 pm

    […] Ya, pelan-pelan-sajaaaaaa~~~ Ah rasa nya baru kemarin-kemarin saya menulis mengenai semester lima disini, sekarang saya sudah duduk di semester enam. Waktu ini benar-benar bandel, bisa dengan cepat […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: