Perkataan

Amarah sedang diguncang ketidaksanggupan mengeluh. Membiarkan jutaan pernyataan yang menjadi pertanyaan terkumpul dalam satu batin. Biarkan sang pemberi rasa ini yang menjaga. Bahkan udara pagi pun hanya mampu memberi angin kesejukan. Tidak diberi kehangatan.

Jawaban adalah setiap pemikiran yang terucap lugas. Terbiasa tak terjamah. Tak tertunda memberi jarak. Seperti nya amarah masih menyimpan nya dengan baik. Lelah untuk selalu menjadikan keluar diri. Lelah bukan berarti lemah bukan? Walau menangis adalah satu-satu nya jalan untuk menghindar. Walau cacian dalam hati hanya terucapkan melalui baris sajak. Walau setelah itu terlelap menjadi ketenangan. Tapi ini nyata. Namun mengapa setiap perkataan membuat arti tanpa lelah menjawab. Jelas bukan pertanyaan. Aku tidak memberi tanda tanya bukan? Partikel-partikel dalam tubuh bergelombang memberi jawab. Namun kembali, hanya sajak yang memberi ruang untuk ketidaksanggupan diri.

Bercerita melalui puisi. Teruntuk sebuah perkataan, Sering terulang terucap, seiring dengan air mata. Pagi ini. Menulis dengan ditemani suara kicauan burung depan jendela. Dan musik akustik yang bermain. Menjelang siang biarkan aku tersenyum kembali. Sang pemilik segala rasa yang ada. Tuhan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: