Menyapa jarak

Harusnya hari itu kita tidak bertemu. Perjalanan berliku masih membasahi hati dan pikiran masih membayangi. Bahkan mata ini tidak mampu menatap walau saat itu jarak tidak menghalangi. Bahkan jika terurai kalimat, semua akan menjadi paragraf tanpa titik. Kaki ini sudah letih untuk selalu berlari. Raga ini sudah terhenti untuk selalu pergi. Masihkah harus aku berkata merangkai setiap kejadian yang ada. Kembali. Begitu. Masihkah harus aku mengulang setiap tangisan rasional. Masihkah hidup mu seperti apa yang ku tahu seperti sajak meninggikan kata. Andai. Kataku harusnya hari itu jarak tidak memberi ruang. Membiarkan menjadi ambang antara kita. Memisahkan segala ketiadaan yang sudah terangkai seperti ingin ku. Tapi mengapa hari itu, jarak begitu dekat menghampiri. Aku benar-benar menyapa jarak. Meniduri bayangan mimpi disaat gelap hari dan membekukan beberapa jemari.

Bercerita melalui puisi. Mengungkapkan beberapa isi hati tanpa menghalangi kedatangan hati, Karena sebuah jarak ikut bercerita. Karena sebuah jarak memiliki kesan. Karena sebuah jarak memberi magnet antara kehidupan nyata dan maya. Karena jarak menjawab perasaan yang telah hilang.

Leave a Reply

%d bloggers like this: