Memudakan tuamu..

Ada yang memar, kagum banggaku. Malu membelenggu
Ada yang mekar, serupa benalu. Tak mau temanimu

Lekas,
Bangun dari tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar

Ada yang runtuh, tamah ramahmu
Beda teraniaya
Ada yang tumbuh, iri dengkimu
Cinta pergi kemana?

Memudakan tuamu
Menjelma dan menjadi Indonesia

Efek Rumah Kaca – Menjadi Indonesia

Dalam psikologi perkembangan, 67 tahun termasuk kedalam kategori dewasa akhir. Dimana usia ini sudah mengalami banyak perubahan pada fisik juga psikis. Bagaimana dengan negara kita? Indonesia yang katanya tercinta juga merdeka. Biarkan menjadi dewasa akhir, karena sifat nya akan kembali ke masa kecil. Mengulang dari awal dan dituntun berkembang menjadi lebih baik. Percayalah bahwa hidup ini berputar karena adil nya Tuhan. Usia bukan menjadi penghalang dari segala apapun, karena 67 tahun tidak membutuhkan ucapan tetapi bukti. Lihat saja, manusia dengan usia yang sama.. mereka tidak mendengarkan banyak ucapan dari mulut termanis dalam kehidupan nya, sudah lelah sepertinya. Mereka ingin bukti nyata, juga bukan janji. Mereka ingin dimanja, juga bukan mati. Seperti lagu Efek Rumah Kaca bilang, memudakan tuamu.. ya, bagaimanapun caranya dan berapapun usia nya saat ini. Tetaplah muda dan selalu di hati.

Saya pribadi tidak ingin memberi harapan ini dan itu untuk Indonesia, karena apalah arti harapan jika kita hanya tertidur. Saya hanya menulis untuk mengingatkan terhadap sesama tentang memudakan Indonesia dengan cara kita. Saya hanya bisa menulis untuk saat ini, juga memberi untaian puisi mesra terhadap nya. Tak apalah bukan lagi WS Rendra atau Chairil Anwar yang memberi sanjungan. Saat ini biarkan saya menjadi Taufik Ismail kecil. Walau sanjungan hanya terdapat dalam diri yang jiwa nya terkadang redup.

Malam ini semua jiwa senantiasa menjadi sumber anugerah. Lalu berbondong-bondong membohongi kalimat syahdu. Tak mengerti apa yang terucap, tak menanti apa yang terlihat.

Sudahi dongeng sebelum terlelap. Lebih baik terbangun saat tua dibanding, tak nafas menyelami air. Tangan-tangan rakyat adalah mata bisu mendiamkan luas nya samudera. Serta, disebutlah merdeka dalam untaian kata.

Jadilah penafsir mimpi agar tahu masa depan. Karena rangkaian keindahan adalah kita yang terbuat. Wahai pujangga semesta, agungkan dengan mesra untuk malam ini. Elok mu harum. Semoga dimana tempatmu berdiri, disitulah karya untuk sebuah negeri.

Selamat malam, Indonesia 🙂

7 Comments

  1. adzhanihani

    August 18, 2012 at 1:56 pm

    Berat, tapi ringan. Ringan, tapi berat. Suka deh.. Sama kakak :p

    1. fasyaulia

      August 18, 2012 at 4:50 pm

      Jadi berat atau ringan nih? 😛 Hahaha baru pertama kali saya disukai wanita *loh*

      1. adzhanihani

        August 19, 2012 at 8:17 pm

        Ngambang aja deh kak, tapi tenang, cinta aku buat kakak masih napak kok. Ada berat. *eh
        Maaf juga ya, baru ngobok-ngobok ‘rumah’ mu dengan peninggalan jejak ini :p

        1. fasyaulia

          August 20, 2012 at 6:49 pm

          No problem, kamu bisa berkunjung kapan saja kok. Karena tiket nya gratis hahaha 😀

          1. adzhanihani

            August 21, 2012 at 11:38 am

            Kalo aku berkunjung ke hatinya kakak, gratis ngga tiketnya?

    1. fasyaulia

      August 18, 2012 at 6:57 pm

      Semangat atau CAPSLOCK RUSAK?

Leave a Reply

%d bloggers like this: