Masa Lalu dan Jejak Digital

Saya rajin menonton video Gita Savitri kurang lebih 3 bulanan di tahun 2017 tanpa subscribe youtube channel nya, sampai akhirnya gak saya tonton lagi karena bosan. Saya tidak follow semua akun medsosnya, soalnya gak butuh tahu kehidupan dia. Saya gak punya bukunya. Saya pernah kesenangan video call berapa detik sama Gita di suatu waktu karena seorang teman yang sedang kerja bareng dia. Kenapa seneng? Iyalah, awal-awal kemunculan Gita sebagai cewe berhijab tsakep dan selow kemudian punya cara pandang asik, siape yang gak seneng bisa vidcall sama doi.

Gitu.

Kemudian, tahun ini sekitar bulan Mei (bener gak ya?), mencuatlah nama Gita sebagai trending topic karena – intinya, dia kena pelecehan seksual di media sosial, kemudian Gita mempublikasikan cerita beserta foto pelaku, tapi ternyata foto yang disebar oleh Gita adalah bukan yang dimaksud.

Sampai, sang pemilik foto minta klarifikasi. Mereka ngobrol di dm dan Gita emosi, manggil nyet, dan lain lain apaan dah pokoknya begitu. Ya semoga teman-teman sudah tahu ceritanya ya. Kalau gak tahu, silahkan cari tahu sendiri.

Gak lama, orang-orang ramai bahas kasus Gita ini. Ada yang pro dan kontra. Bahkan, ada yang mencari gandengan untuk sama-sama gak suka sama Gita. Ditambah lagi, orang-orang dibuat shock karena isi twit Gita beberapa tahun lalu. Kasar, kotor, penuh emosi. Semakin dihujatlah si mba nya.

Oke, Gita, terima kasih untuk kasusnya soalnya saya jadi ada bahan tulisan.

48115

——————–

1. Perihal Masa Lalu

Saya, teman-teman, kalian semua tentu punya masa lalu. Karena setiap waktu yang dilewati akan menjadi sebuah masa lalu – pada masanya. Tapi, tidak semua orang sadar bahwa siapa saja bisa berubah, bahkan bisa membawa perubahan, bukan saja untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain.

Anggaplah, dalam kasus Gita, ketika dia emosi, dia salah.

Tapi, kesalahan dia seolah-olah bertambah karena masa lalunya.

“yaiya pantesan begitu, dari dulu ternyata”

“yaiya pantesan begini, belum berubah ternyata”

Begitu kurang lebih komentar orang-orang yang berseliweran di linimasa twitter saya ketika kasus ini menyeruak ke permukaan media sosial dan orang-orang menemukan isi twitter Gita Savitri yang berkata kasar, kotor, dan tidak layak – katanya. Orang-orang ini tidak segan menulis twit dan memberi retweet berkali-kali untuk membahas Gita Savitri yang dianggap tidak layak menjadi influencer, tidak layak jadi panutan.

Lah.

Orang-orang mah dilihatin kebaikan muji-muji dikatain panutan.

Panutannya punya kesalahan dicaci-maki dikatain gak layak jadi panutan.

Ya suruh siapa ngejadiin panutan.

Yasudah, biarkan.

Teman-teman, kita pasti tahu bahwa untuk berubah itu tidak mudah. Apalagi berubah ke arah yang lebih baik. Kita, diri sendiri ini adalah pejuang yang setiap harinya memupuk hal-hal baik, menanam benih-benih kebaikan, mencairkan es-es batu kehidupan positif untuk turut serta masuk dan mengalir ke dalam diri. Supaya apa? Supaya kita turut merasakan dingin dan damainya kebaikan itu.

Berkaca pada diri sendiri. Proses menjadi baik itu harus dilakukan rutin. Dari hal-hal kecil, dari satu orang ke satu orang lainnya, dari satu hari ke hari lainnya, dari tahun pertama sampai tahun berikut-berikutnya, dari hal yang tidak pernah kita lakukan – kemudian kita melakukannya karena kita tahu itu sesuatu yang baik, yang bermanfaat. Terus dan terus.

Dilakukan pun tidak semua orang menerima, tidak semua orang percaya bahwa kita sedang melakukan kebaikan dan kita tulus. Diantara jejak-jejak perubahan, pasti ada kesalahan. Begitupun, saya, atau Gita Savitri dan siapapun.

Ya bagaimanapun masa lalu kamu, kita semua, itu adalah proses yang pernah kita lewati, sampai kita ada di titik hidup hari ini.

2. Jejak Digital

1000 kebaikan terlupa karena 1 kesalahan dan masa lalu.

Sedih gak?

Saya sih iya.

Ya walaupun 1000 banding 1 ini hanyalah ilustrasi ya.

Kata seorang sepupu, jejak digital itu jahat.

Sedangkan menurut saya, enggak.

Jejak digital adalah proses diri kita yang bisa kita lihat. Kita sebagai manusia bertumbuh, berkembang, berproses. Jejak digital gak jahat karena ada ditempatnya. Manusianya aja yang jahat karena menemukan secercah kesalahan untuk diungkapkan.

Blog ini, sudah seringkali saya baca ulang, dari tulisan setiap bulan dan tahunnya. Kemudian, saya menemukan konten yang tidak layak baca menurut saya, akhirnya saya hapus. Bukan karena ada kata-kata kasar, tapi karena isinya tidak layak untuk dibagikan (ternyata). Saya mau bagi tulisan yang positif dan asik, eh kenapa ada tulisan “sampah” yaaa. Kadang gitu. Tapi dipikir lagi, walau sampah, saya pernah ada di posisi itu. Sebuah posisi yang waktu saya upload tulisan, ngerasanya keren banget, bukan sampah.

Twitter pun, dari puluhan ribu twit saya, kalian mungkin akan menemukan perkataan kotor saya, perkataan kasar saya, perkataan hinaan, cacian, atau hal-hal yang tidak pantas untuk dituliskan.

Saya tahu itu.

Ada 74 ribu twit saya selama 9 tahun main twitter.

Ada proses diri saya disana, selama 9 tahun lamanya.

Dari saya jadi anak sekolah, remaja belasan tahun, kemudian menjadi mahasiswa baru (maba) di sebuah kampus, bangga dengan teman-teman baru, kesal dengan senior, mention pacar hanya berbalas selamat pagi – yang sebenernya bisa diucapkan di chat pada masa itu. Kemudian saya masih hidup, saya menjadi orang yang menduduki usia 20-an, perlahan naik lagi karena saya sudah menjadi senior, menjadi orang yang difollow adik-adik kelas, kehidupan saya pun betambah karena teman-teman blog memfollow twitter saya. Bahkan kemudian saya lulus kuliah, teman menghilang satu persatu, sampai sekarang saya bekerja.

Dari hal yang gak penting aja dikomentarin, dijadiin bahan tweet. Dari yang segala di retweet, ada hal heboh langsung mention banyak temen, ngomong kasar tuh dianggap lucu terus cuma hahaha doang. Sampai kemudian hidup semakin berubah, harus semakin baik, sedikit demi sedikit, hari demi hari, tahun demi tahun, begitupun karena usia saya semakin bertambah – yang memang dipastikan kehidupan saya pun tentu berubah.

Terus,

Ada yang baca twit kasar Gita beberapa tahun lalu langsung nangkep “lihat nih gaes, dari dulu aja udah geblek ni anak, kasar!”. Astagah dari puluhan ribu tweet, di capture berapa biji, orang dengan mudah langsung benci.

Gak adil.

3. Influencer dan Panutan

Syukur, saya gak punya influencer favorit atau selebgram, selebtweet, artis, ya siapapun yang saya favoritin. Suka ya suka aja. Tapi gak ngebet. Saya suka Pandji Pragiwaksono dari dulu. Tulisan blognya asik. Penjelasannya lugas. Konsisten dan bisa bertanggung jawab sama apa yang dia lakukan atau ucapkan. Tapi, saya gak suka perihal dia bermusik. Saya juga gak beli buku dia – padahal ingin, tapi tiap ke toko buku gak pernah mau beli. Saya gak follow instagram dia, cuma follow twitternya. Yauda sih begitu aja. Gak semua hal yang kamu suka dari seseorang, kamu anggap bagus semua hal tentang dia. Kalau ada yang gak disuka, yauda jangan maksa. Jangan sampai kamu nemu kesalahan dia, dikomporin netizen, kemudian jadi berujung kebencian.

Jangan.

Suka gak perlu jadi cinta.
Gak suka gak perlu jadi benci.

Itu aja kuncinya.

4. Penutup, cielah dikira skripsi

Saya harap tulisan ini bukan sebagai tulisan saya membela Gita. Saya cuma terinspirasi dari kasusnya yang kemudian saya berkaca dengan kehidupan saya pribadi. Semoga teman-teman yang membaca dan terbuka pikirannya, bisa mengerti. Bahwa semua orang pernah dan bisa melakukan kesalahan, di masa lalu ataupun masa nanti. Jangan lupa juga bahwa kebaikan adalah hal yang menular. Saya, kamu, temanmu, siapapun – pasti pernah sama-sama menyebar kebaikan dan kebaikan itu disebar kembali. Terus dan terus. Anggap saja kebaikan ini MLM. Kena ke satu orang, kena lagi ke orang lain. Kalaupun ketika hinggap di orang lain terjadi kesalahan, semoga kebaikan tetap bisa disebar, lagi dan lagi.

Terakhir, terima kasih untuk yang bersedia membaca hampir 1200 kata ini. Sungguh ini tulisan super panjang dan mungkin gak bikin nyaman mata. Hehe. Aylafyu. Sampai jumpa ditulisan lainnya!

39 Comments

  1. Rissaid

    June 23, 2018 at 11:23 pm

    aylafyutu haha

    im so glad to read this actually. Netizen (saya pun juga) memang sebaiknya belajar mencintai seala kadarnya, dan engga lupa klu kita manusia rawan khilaf, ya kan manusia hehe.

    Sama mba Fasya, saya cenderung suka pada suatu ide/pemikiran, klu baik ya di ambil, klu ‘buruk’ yauda sih, kehidupan pribadinya itu urusannya, kita harusnya paham, engga ada cinta yg bs melewati ranah privasi (kecuali emak ke anak, jgn dilawan, okhe) haha

    1. fasyaulia

      June 24, 2018 at 10:09 pm

      Karena dalam agama pun yang berlebih2an tida baik katanya. Aseeeg~

  2. SAK

    June 24, 2018 at 6:25 am

    Terima kasih tulisannya, Mbak Fasya! Mewakili apa yang rasakan :’) ♥

    Topik Gita ini sempat jadi diskusi tertutup antara saya dan adik di rumah wkwk inti diskusinya, kami kecewa banget sama nejizen masa kini. Entah mengapa, ‘1000 kebaikan sirna hanya karena 1 kekhilafan’ menjadi budaya kita masa kini. Kita mudah banget lihat kesalahan orang lain dan lupa sama banyaknya kebaikan yang orang lain lakukan dapatkan. Benar-benar nggak adil.

    Setuju banget sama Mbak Fasya dan Mbak Rissaid. Baiknya kita menyadari bahwa manusia itu emang nggak ada sempurna. Kita sama-sama memiliki kekurangan. Jadi, sebaiknya kita sama-sama mengambil pelajaran dari apa-apa yang orang lain lakukan. Bukan malah menyudutkan dan saling menghakimi.

    1. fasyaulia

      June 24, 2018 at 10:11 pm

      Hallo, terima kasih juga sudah baca.

      Diskusi tertutup kadang nyenengin ya, akupun nulis ini diskusi dulu – sama diri sendiri. Daripada langsung komen ini itu di medsos, kayanya memang lebih baik nyimak dulu aja hehehe.

      1. SAK

        June 27, 2018 at 11:20 am

        Sama2, Mbak Fasya 🙂

        Bener mbak, sebelum komen sana sini, lebih baik kita pikirin dan renungin dulu sama diri sendiri. Krn sebelum menilai, baiknya menyimak dulu 😀

  3. Juman Bin Wastono

    June 24, 2018 at 8:29 am

    Sependapat n setuju banget sama cara pandangnya. Klo suka ya suka aja jangan berlebihan.

    Saya juga termasuk orng yg mnyukai beberapa publij figur yg cukup terkenal. Tetapi tidak menjadi fans fanatik.

    1. fasyaulia

      June 24, 2018 at 10:12 pm

      Bagus kalau begitu mas 🙂

  4. gegelin2

    June 24, 2018 at 8:33 am

    Menjadi konsisten itu gak selamanya bagus, kok. Coba kalo Gita konsisten ngomong kasar, mana bagus channel YouTube dia skarang?

    Selain itu dr gue pribadi, setiap orang harus melatih dirinya melihat segala hal dari berbagai dimensi, gabisa satu sisi aja. Begitu jg dengan konten YouTube nya. Dia salah? Yaudah kita jangan jadi begitu. Dia benar? Oh bagus nih, menginspirasi. Makanya netizen jg musti bijak, jangan terlalu “jatuh cinta” sama influencer, giliran panutannya salah malah jadi kecewa berat.

    Just my 2 cents ya Fas, blom makan Ciki makanya otak lg bener 😂

    1. fasyaulia

      June 24, 2018 at 10:14 pm

      Tadi komen pas baru bangun gitu ya Ge? Jadi masih fresh banget otaknya hahaha.

      Ya, semoga kita yang nulis pun sama-sama bijak (seterusnya) ya. Pokoknya mah sering2 lihat dari sisi lain <3

  5. Mydaypack

    June 24, 2018 at 11:29 am

    kasus gita kemarin memang sangat menarik jadi pembahasan samapi2 jadi trending topic waktu itu.

    setelah membaca artikelmu mbak saya langsung scrol2 twitter saya bebrapa tahun lalu buat ngeliat isi twit saya yang alay2 hahahahaaa

    1. fasyaulia

      June 24, 2018 at 10:16 pm

      Semua orang pernah alay pada masanya kok. Nanti 10 tahun kedepan pas ngaca ke hari ini bisa aja ngerasa alay (lagi) hahaha 😛

  6. zapufaa

    June 24, 2018 at 4:56 pm

    Kak fasya parah ini tulisannya jelas padat sungkat tegas tapi keren :”)

    Jejak media memang kadang lucu, jahat, tapi juga suatu proses. Aku sering ketawa kalau lihat chet chet masa lalu atau twit twit “astaga dulu aku pernah gini ya” hahaha
    Anyway gitsav memang kemarin booming banget, bawa bawa si dorripu lagi heuheu

    Suka gak perlu jadi cinta.
    Gak suka gak perlu jadi benci.

    Ini kutipan yg saya suka hehe

    1. fasyaulia

      June 24, 2018 at 10:18 pm

      Hai, makasih ya 🙂

      Yakan, mampir2 ke jejak digital ini gak ada salahnya kok, namanya juga mampir, gak akan lama, nanti juga sadar kembali. Hehe.

  7. audris

    June 24, 2018 at 8:42 pm

    IYA BANGET! Aku banyak ngehapus tulisan lama HAHAH. Kayak “ih woy penting banget kayaknya sampe wifi nyala aja diceritain” tapi yaudala, capek kalo dihapusin semua nanti abis postingannya dan btw! Tweetsku yang jadul-jadul banyak bahasa kasar:))

    Kalo di twitterku, ada yang ngebercandain “Semua orang boleh ngomong kasar kecuali gitasav”

    1. fasyaulia

      June 24, 2018 at 10:28 pm

      AUDRIS IH MAAP LAHIR BATIN YAH! WKWK TELAT ACUUU.

      Aku ngapusin yang keganggu aja sih, tulisan awal2 ngeblog di tahun 2012 – yang pengen segala ditulis gitu tiap harinya. PADAHAL NAON SIH IEU. Hahaha.

  8. Bang Harlen

    June 24, 2018 at 9:01 pm

    Langsung search siapa gita savitri.. soalnya sebelumnya ga tau dia siapa.. hhahah

  9. aqied

    June 25, 2018 at 4:55 am

    kalo udah lihat reaksi reaksi betijen dan kemampuan investigasinya d setiap kasus2 selebgram/twit atau influencer gini, aku tu jadi suka insecure sendiri. sampai sampai beberapa kali googling nama sendiri dan mulai menghapus2 masa lalu yg kayanya kurang baik kalo dibaca sekarang. trus sekarang juga mulai jarang pake nama asli lengkap. seinsecure itu yawlaaa

    1. fasyaulia

      June 26, 2018 at 9:35 am

      Kemampuan investigasinya sih oke. Tapi udahnya ituloh. Komentarnya…. nyeremin.

      Aku pake nama lengkap abisnya ya gimana dong namaku pendek segitu2nya wkwkwk apa aku pake nama samaran aja ya mba? Jessica gitu? 😂

  10. nyonyasepatu

    June 25, 2018 at 8:17 am

    Padahal dulu siapa yang nyangka omelan di masa lalu masih bisa dicari2 ya. Emang harus lebih bijaksana bermain internet dan social media

    1. fasyaulia

      June 28, 2018 at 10:23 pm

      Dan dulu banyak yang bilang “sosmed gue suka2 gue” padahal gak gitu juga ya mbaaa hihihi kalau bertaun2 liat lagi kan malah maluuuk

  11. Diffa Imajid

    June 25, 2018 at 5:06 pm

    untung masa lalu saya mah di MIRC jadi gak ketauan….

    1. fasyaulia

      June 28, 2018 at 10:25 pm

      Co_15_ngerasaganteng_bdg ya usernamenya?

      1. Diffa Imajid

        June 28, 2018 at 10:40 pm

        C0_12_seD3rH4na_PDLRG hahahaha

  12. liandamarta.com

    June 25, 2018 at 8:49 pm

    Aku ngikutin nih kasusnya Gitasav, karena kebetulan aku pun subscribe dan follow sosmednya.

    Setuju dengan semua yang kamu bilang di sini. Aku pun sedih ketika netizen dengan gampangnya ngecap seseorang negatif hanya karena melihat tweet jaman dulunya. Seolah-olah seseorang gak boleh bikin salah dalam hidupnya. Padahal seperti yang kamu bilang, apapun yang ada di sosmed kita itu adalah sebuah proses pendewasaan.

    Soal kasusnya Gitasav, somehow aku melihat ada oknum yang berusaha memanfaatkan situasi itu sih. Karena aku sempat lihat ada 1 akun IG yang isinya capture-an tweet-tweet lama Gita dan semuanya ditag ke brand2 yang Gita jadi brand ambassadornya. Sungguh aku gak habis pikir ada orang2 sejahat itu. 😔

    1. fasyaulia

      July 5, 2018 at 6:07 am

      Teh martiiiil apa kabarrrr? *cipika cipiki* hahahaha. Iya teh biasanya kalau ada selebgram atau artis yang “kesentil” masalah, mendadak ada akun2 yang entah darimana isinya ngejelek2in semua. Bilangnya sih ngebeberin fakta. Hadeuh niat banget yak ckck.

  13. kunu

    June 26, 2018 at 6:29 am

    Ah iya sya, aku juga tau kasusnya, orang klo mau jatuhin orang lain ada aja caranya, mana pakai ngajak-ngajak orang banyak lagi.. huft 🙄

    1. fasyaulia

      July 5, 2018 at 6:09 am

      Nah ngajak2 aja nih yang bikin kesel. Sendiri aja napa. Wkwk

  14. innaistantina

    June 27, 2018 at 12:51 pm

    dan setelah saya cek kembali status sosmed terutama di fb saya jaman dulu, banyakan isinya galauuuuu! bener banget memang, status sosmed ataupun tulisan di blog, seiring waktu berjalan bersama dengan pendewasaan kita. Nice Blog Fasya! Salam kenall yaa

    1. fasyaulia

      July 5, 2018 at 6:11 am

      Hallo salam kenal jugak Inna 😊

      Ya begitulah sosmed, jejak2 kehidupan kita ada disana. Apalagi kalau kitanya pengguna aktif. Gampang banget nemu sebagian dari kita yang dulu2 hahaha.

  15. febridwicahya

    June 28, 2018 at 9:10 pm

    Wahaa Gitasaaaav, anda dulu bahagia sekali ya bisa videocall-an sama beliau waktu di Sangkringart. Bahagia bersama Maikel juga kan, wlek.

    Wgwgw, dulu saya sempet mengikuti Gitasav sih, tapi cuma untuk bahan komen-komen gemas di instagramnya. Sampai akhirnya saya kepo-kepo, terus jadi biasa aja. Kayak, oh, gitu. Sebelum masalah ini ada, saya sudah biasa ke Gtasav ya. Tidak benci sih, cuma sering ngikutin apa yang dia ucapin ke Hilman (atau herman?) wtf siapa itulah.

    Untungnya, saya juga sama sepertimu mbak. Tida punya panutan di twitter, instagram, atau apalah itu. Suka ya, suka. Tapi beberapa karyanya saja, beberapa pribadinya saja, nggak semua. Yang sampai kalau ada meet and greet saya harus datang di kursi nomor depan. Enggak. Ya kalik. Wgwggw.

    Dan perihal masa lalu, beuh, saya mencetuskan banyak masa lalu atau jejak digital yang buruk, dan saya nggak menghapus itu. Saya jadikan itu sebagai bahan untuk berkembang sih.

    Gitu aja sih.

    Satu lagi ya,

    Aylaf… ngga ah, saya fokus skripsi aja.

    1. fasyaulia

      July 5, 2018 at 6:29 am

      Kamu gak usah punya panutan soalnya kamu adala panutan nak nak lainnya wahai bung Febri *keprok*.

      Fokus skripsi? Kaya maikel? O. O. O. O aja yakan.

  16. ketikyoga

    July 3, 2018 at 9:40 pm

    Saya nggak mengikuti media sosialnya Gitasav sama sekali. Nggak tertarik juga sih. Padahal beberapa teman cowok kayaknya banyak yang menyukainya. Saya cuma pernah baca 2-3 tulisan Gitasav di blog, terus langsung membatin, anjir Gita sok bijak banget. Sama aja kayak aku. :3 Wqwq. Pemikirannya oke, tapi saya merasa nggak cocok aja. Terus ya udah, pas ada ramai-ramai kemarin saya pun nggak terpengaruh warganet buat ikutan menghujat ataupun membela.

    Yang menyebalkan dari menyukai karya seseorang itu ketika perasaan sudah dipengaruhi oleh kehidupan pribadinya, sih. Misalnya saya menyukai tulisan seseorang. Saya suka sama pemikiran-pemikiran atau gaya berceritanya. Terus saya coba cari tahu lebih dalam soal penulis ini, ternyata dia doyan mabu-mabuan atau seks bebas (ini contoh dari hal buruk aja). Nah, seringnya pasti timbul pertanyaan, apakah saya akan berhenti menyukai tulisannya setelah tahu tabiatnya tersebut?

    Saya sebisa mungkin berusaha membuang jauh-jauh hal buruk tentangnya yang saya tahu. Selama tulisannya enak untuk saya baca, itu udah cukuplah. Jangan sampai kepengaruh jadi males baca karena orangnya gini dan gitu. Selama dia tidak merugikan orang lain atau masyarakat, saya akan tetap beli buku-bukunya. Ehe.

    Aduh, jejak digital saya di blog banyak bener yang buruk. Beberapa ada yang saya hapus, lebih banyak saya biarkan sebagai pengingat. Rupanya, saya sekarang perlahan-lahan sudah berubah menjadi lebih baik. Halah. Yoga sok iye bener~

    1. fasyaulia

      July 5, 2018 at 6:33 am

      Karena kita manusia suka larut dalam banyak perasaan. Begitulah. Mungkin bisa jadi akupun.

      Hahaha buruk atau enggak, yang penting semua orang pasti berjalan ke arah baik setiap harinya. Aku juga ga semua diapus, dibiarin aja soalnya… YA CAPE JUGA NGAPUSIN BEGITUAN WKWK. Biar ajalah udah. Semua orang punya proses kok hehe.

  17. kresnoadi DH

    July 22, 2018 at 7:18 pm

    Gue malah dulu tahunya Gita itu blogger. Eh baru tahu belakangan kalau di Instagram rame, di YouTube juga. Terus baru tahu kalo ana sekarang suka sama yang hijabers2 mantapbs gitu. Huehehehe.

    Tapi bener juga sih. Kalo suatu saat nanti gue ada kasus, terus pada rame dan cari tahu bilang ‘Nih liat si adi. Dari dulu sampe sekarang emang rusak.’

    🙁

    1. fasyaulia

      July 25, 2018 at 12:53 pm

      (( hijabers2 mantap ))

      Kalau akuh hijabers2 apah Di?

      1. kresnoadi DH

        August 21, 2018 at 8:15 pm

        HIJABERS SUPERMANTAB KARENA UDAH DOTCOM DONG!

  18. val

    July 30, 2018 at 5:48 am

    Hai kak! Keren banget postingannya, semangat terus ya kak.
    Salam kenal, kalau kakak berkenan boleh saya minta ikuti balik?😊

Leave a Reply

%d bloggers like this: