Jatuh Hati Dengannya

“Ada ruang hatiku yang kau temukan. Sempat aku lupakan. Kini kau sentuh. Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati.Β Ku terpikat pada tuturmu. Aku tersihir jiwamu. Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia. Ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu” – Raisa ; Jatuh Hati

Dengannya, saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa harus malu atau takut terlihat jelek. Sesekali saya bertanya padanya “ilfeel?” jawabannya tetap tidak, berkali-kali, dan berulang-ulang.

Dengannya, saya belajar untuk menerima dan mencintai kekurangan orang, menerima dirinya dengan apa adanya tapi tidak membiarkan dirinya menjadi seadanya.

Dengannya, saya mengalami moment dimana saya makan di angkringan sesungguhnya untuk pertama kalinya dalam hidup. Bagi yang membaca biasa aja, buat saya luar biasa. Di hari itu pula pertama kali saya dan dia bicara banyak di satu malam, menertawakan kehidupan.

Dengannya, saya belajar untuk mengenal keluarga baru. Ibunya, Ayahnya. Pun, baginya, belajar mengenal keluarga baru, Mama saya, Bapa saya. Mengenal kekurangan masing-masing keluarga adalah menyenangkan buat saya, karena kelebihan takut membuat kami menutup mata.

Dengannya, saya menikmati kota Bandung. Menelusuri tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Mendengarkan suara burung sambil menutup mata. Mendengarkan suara pohon tinggi yang tertiup angin. Sukanya begitu. Pun, melihat cahaya matahari yang masuk dari sela-sela ranting pohon.

Dengannya, saya merasa aman dalam situasi apapun. Terjaga walau hanya dekat, terlupakan walau jauh, tersisakan air mata setelahnya.

Dengannya, saya diajak masuk ke sebuah mimpi untuk menelusuri setiap imajinasi yang ingin diwujudkan. Menangkap satu persatu rahasia hati yang dibicarakan tanpa jeda, seperti nafas yang menggebu bersemangat tanpa malu.

Dengannya, dihadapannya, saya pernah tertawa sampai menangis, menangis sampai tertawa, bahkan dengannya saya bisa melontarkan lelucon apa saja lalu tertawa bersama. Sukanya adalah menutup muka sampai wajah memerah, menertawai kekonyolan yang saya buat, katanya.

Dengannya, saya senantiasa senang untuk menyiapkan sepiring makanan yang penuh, selalu mengatakan enak dan selalu habis tanpa sisa. Itu menjadi salah satu hal yang bikin saya tersenyum berkali-kali, terus-menerus, tiada henti, bahagia.

Dengannya, saya sedia membenarkan belahan rambutnya, sisinya diusap, setelahnya saya beri pukulan kecil dikepala lalu kita kembali tertawa bersama. Begitupun, saya selalu suka jika kepala ini terusap dengannya.

Dengannya, hujan dan panas bukan alasan yang harus ditakuti. Benar, karena kota ini pun tetap cantik saat keduanya ada, tetap dicintai sebelum dan setelahnya, dan manusia-manusia bergumul mengucap cinta seperti sedia kala.

Dengannya, saya harus katakan bahwa hidup ini begitu menarik untuk diceritakan.

Sekarang, dengannya, adalah sebuah memori yang harus direlakan. Bukan karena perasaan tapi karena keadaan. Bukan karena kebencian tapi karena pilihannya. Bukan karena masalah kami tapi karena masalah dengannya.

Sekarang, dengannya, adalah berjalan sendiri-sendiri. Kami berduka dalam diri sendiri-sendiri. Kami merelakan hari-hari kemarin. Kami menangisi kehidupan sendiri-sendiri.

Sekarang, dengannya, jatuh hati begitu memikat tapi terhenti. Secara tiba-tiba, tidak terbayangkan, benar-benar kejutan kehidupan.

Saya tau bahwa sesekali kami sama, banyak kali kami berbeda. Antara kepribadian, kehidupan, pandangan hidup, pola pikir, juga hal lainnya yang sedang kami adaptasi untuk saling mengetahui, yang sedang kami lewati untuk saling mengerti, yang sedang kami jalani untuk saling menghargai, yang kemudian pelan-pelan terhenti lalu tersakiti.

Lalu,Β bisakah perasaan merelakan begitu cepat untuk diterima?

“Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau selamanya. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan” – Anonim

28 Comments

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:07 am

      Makasih mbak πŸ™‚ aw juga πŸ˜›

  1. @brus

    April 12, 2015 at 10:00 pm

    Kehidupan memang ada rodanya, roda itu bernama waktu, untuk melihat pelangi disore hari, siangnya harus tercipta hujan deras, bahkan badai, untuk melihat bulan dimalam hari, harus terbenam dulu tuh matahari .. dst,.. etc … dsb-nya … Semua ciptaan-NYA tidak ada yg sia2. Subhanallah …

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:09 am

      Iya, semua hal butuh proses, proses itu butuh waktu. Memang begitulah kehidupan.

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:10 am

      Yauda ngetik aja jangan ngomong heee

  2. assa

    April 12, 2015 at 11:57 pm

    Kehilangannya begitu terasa, ;(

    Cuma masih “bingung”, arah tulisannya ke siapa mbak Fasya? *maaf agak lelet dengan perasaan

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:11 am

      Baca lagi dengan seksama coba, ini tulisannya mengarah kesiapaaaa hahaha πŸ˜›

  3. capung2

    April 13, 2015 at 12:37 am

    Endingnya yg membuat seseorg slalu optimis, “Rabb jga yang akan mempertemukan ‘seseorang’ itu nantinya.”

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:12 am

      Iya mas, karena sudah seharusnya percaya dengan janji Tuhan πŸ™‚

  4. mawi wijna

    April 13, 2015 at 5:20 am

    kok mirip kisah saya… entahlah… mgkn saya lg mellow aja

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:14 am

      Sambil denger lagu yang mellow juga gih, biar semakin mellow πŸ˜›

  5. Dita

    April 13, 2015 at 5:37 am

    *pungutin hatinya yg jatuh* πŸ˜€

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:15 am

      Simpenin ya Kak, makasih πŸ˜€

  6. iraajummah

    April 13, 2015 at 8:41 am

    gak bisa kome apa-apa nih. spechless… he

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:16 am

      Ini bisa.. tapi pendek πŸ˜› biasanya panjang, 2 paragraf hahaha

      1. iraajummah

        April 23, 2015 at 8:20 am

        Hahahaha
        Aahh.. Jadi malu nih… :v

  7. Beby

    April 14, 2015 at 11:40 am

    Karena terkadang hidup ngga selalu sejalan dengan impian.. πŸ™‚

    Semoga perjalanan yang sempat terhenti bisa dilanjut kembali yah.. Aamiiin..

  8. adzhanihani

    April 15, 2015 at 9:37 am

    LIKE BERKALI-KALI KALO BISAAAA! :”((

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:17 am

      MAKASIH HANI UWUWUWU πŸ™

  9. katamiqhnur.com

    April 16, 2015 at 4:09 am

    hallo, girl..
    salam kenal dan mampir balik yaa..
    hehehe…

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:19 am

      Hallo, salam kenal juga hehe

  10. bulz

    April 21, 2015 at 6:12 pm

    Kereeennn πŸ‘ bener banget, mbak… Hidup itu gk bisa ditebak, kadang buat kita sedih sampe merana, kadang buat kita senang sampai terbahak. Tapi dibalik itu semua, banyak pelajaran yang bisa diambil, bisa dijadikan inspirasi untuk orang lain. Terpenting, saat kita melewati itu semua baik, senang ataupun sedih, kita menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Tanpa menyepelekan orang lain apalagi menyakiti meski terkadang kita yang tersakiti. Kita cukup percaya, kalau Allah sudah menyiapkan obat hati yang terbaik untuk kita 😊

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:26 am

      Makasih banyak πŸ™‚
      Iya mbak, sebaik-baiknya kita menjalani kehidupan, tetap saja ada saatnya terjatuh. Memang sudah seharusnya begitu, hanya saja hal-hal yang buat terjatuh memang kadang diluar dugaan manusia. Saya percaya dengan janji Allah, termasuk yang mbak bilang, obat hati yang terbaik untuk kita.

  11. cumilebay.com

    April 27, 2015 at 12:35 pm

    Ah tersihir jiwamu … jadi macam guna2 alias pelet kah yaaaa πŸ™‚ #Kabur
    Dan semua nya mmg ngakakan perna sia2

  12. GustiFullah

    September 18, 2015 at 2:04 pm

    Lagi jalan-jalan di “gang Poem” blog kamu, sya… ketemu postingan ini rasanya gimana gitu, sedih aja. Kayak lagu Sepatu – Tulus: “Cinta, memang banyak bentuknya mungkin tak semua bisa bersatu~”

    1. fasyaulia

      September 18, 2015 at 2:15 pm

      Aku yang nulis lebih sedih, baca berkali-kali masih tetep sedih Gus πŸ™ makasih udah mau ngubek ke gang poem… Hehehe soundtrack nya boleh juga tuh Tulus – Sepatu.

Leave a Reply to GustiFullah Cancel reply

%d bloggers like this: