Hujan yang berdiam diri

Malam pun berbicara tentang bau matahari. Malam ikut merindukan hawa dingin yang merajai. Tidak seperti ini. Hanya keluhan dan sorotan tajam dari mu, dari cahaya juga udara yang menari-nari bahagia sekali.

Tanah-tanah depan rumah selalu disiram Ibu. Jika siang terlihat sekali berdebu. Dari aspal jalanan, mungkin begitu. Kemarau ini panjang sekali rasanya. Hujan masih saja berdiam diri tak menampakan keributan nya. Masih tertidur. Kasihan Ibu juga para pembantu. Belum lagi petani, ya?

Mungkin kota ini sedang di gandrungi proyek perbaikan jalan, jadi matahari lebih banyak menemui aspal panas. Jika hujan, aspal berantakan. Aku harap, malam-malam di akhir tahun berubah bersama bau-bau hujan. Salah, tentu nya bau tanah terkena hujan. Itu adalah kenikmatan.

Hujan masih berdiam diri. Menunggu awan hitam, petir, juga pelangi. Bersama penciptanya, mungkin sedang rapat kordinasi.

Aku masih menunggu hujan, kamu?

10 Comments

  1. lazione budy

    November 6, 2013 at 11:34 pm

    Koordinasi.

    Storm (x-mens) dilibatkan, dia akan membantu mengaturnya.

    1. fasyaulia

      November 8, 2013 at 8:35 pm

      Typo hehe
      Pecinta animasi mas? 😛

  2. Sugito Kronjot

    November 7, 2013 at 6:55 am

    aku tidak ska mnunggu, biar hujan yg menemuiku.

  3. Agfian Muntaha

    November 7, 2013 at 9:57 am

    hujan kan membawaku menemuimu…

    1. fasyaulia

      November 8, 2013 at 8:37 pm

      Aih.. *benerin jilbab* *bawa payung*

  4. Diffa Imajid

    November 8, 2013 at 5:36 pm

    hujanmu sudah menjemputku. menghanyutkanku bersama sepeda motorku

    1. fasyaulia

      November 8, 2013 at 8:39 pm

      hujanku sudah menemuimu. mengantarkan sebongkah rindu untukmu.

Leave a Reply

%d bloggers like this: