Hakim

Kadang sesekali merasa, hakim lebih sering ada dalam diri. Walaupun tidak terungkapkan secara nyata. Ada pula perkataan dalam diri yang tidak objektif. Tapi hakim selalu maju seakan-akan mengetahui apa yang ada, apa yang lalu, dan apa yang akan datang. Setelah kabar burung mengiyakan. Hakim seperti menemukan lampu hijau untuk semakin menggugah pikiran. Tanpa disadari, hakim membuat konflik terjadi. Kadang pula menyatukan yang berbeda. Kadang menemui hati untuk ikut menyatu dalam batin.

Dari satu senyuman saja. Hakim akan menuliskan ejaan kata-kata panjang dipenuhi cacian. Atau dari satu tulisan saja, hakim akan memberi senyuman dan memberi tawa mengeja tanpa jeda. Sekarang, mencoba menyelami dengan turunnya jatah hakim yang ada dalam diri.

Bercerita melalui puisi. Teruntuk pribadi, yang selalu menghakimi diri sendiri saat tidak dapat melakukan sesuatu, menghakimi orang lain saat perbedaan makna, menghakimi keadaan saat tidak sesuai dengan rencana, menghakimi sesalnya perjalanan hidup saat terjatuh, dan menghakimi hati untuk menutupi perasaan tanpa melihat kenyataan. Kehidupan ini terlalu banyak menghakimi. Termasuk saya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: