Challenge minggu ke-1

“Pilih mana, cinta tanpa harapan atau harapan tanpa cinta?” – Gusti Fullah

Pertanyaan dari Gusti emang bener tantangan banget buat nulis, apalagi saya lagi gak punya mood baik buat bahas tentang perasaan. Tapi ya namanya juga challenge, mau gak mau harus dilakuin, dan sesuai perjanjian, jawaban beserta alasannya diposting diblog.

Pilihan pertama atau kedua gak ada yang salah, gak ada yang benar juga. Jawabannya tergantung persepsi masing-masing aja. Nanti kalau ada yang baca terus gak setuju juga gak masalah, karena hidup kan memilih dan gak harus selalu sama. Nah jadi, pilihan saya yang mana? Saya pilih yang pertama, cinta tanpa harapan.

Buat saya, cinta akan selalu ada dan selalu tumbuh di sekitar kita, terlebih lagi cinta itu sebuah perasaan, perasaan itu adanya di dalam hati, jadi tentu saja semua manusia merasakan hal ini. Berhubung cinta sebuah perasaan yang pasti semua manusia punya, saya pilih cinta tanpa harapan karena tidak semua manusia punya harapan dan berharap pada sesuatu. Saya adalah orang yang tidak terlalu banyak berharap akan sesuatu, dalam hal menggapai apa yang saya mau, saya gak suka dengan sesuatu yang terlalu tinggi. Kata orang, bermimpi lah setinggi-tingginya, berimajinasi seluas-luasnya, sedangkan saya lebih suka bermimpi ditengah-tengah. Kenapa begitu? Karena saya gak mau terlalu jauh dari realita. Kalau ada orang yang punya mimpi dan harapan yang tinggi, jujur saya salut, dia berani mengambil resiko kalau harapannya gak tercapai.

Bicara tentang harapan, saya pernah punya harapan terlalu tinggi, pada akhirnya saya gak mencapai itu dan ternyata saya sakit hati. Selain itu saya juga pernah mencapai harapan yang tinggi, tapi orang-orang di sekeliling saya tidak memberikan respon positif. Contoh nyatanya adalah saat SD saya pernah mendapatkan ranking 2 dan 3, buat saya itu adalah prestasi walau saya tidak mendapatkan ranking 1. Tetapi orangtua saya tidak memberikan respon positif atas hasil kerja keras saya untuk mencapai itu, mereka meminta saya untuk lebih hebat dari ranking 2, mereka ingin saya ranking 1. Hal yang lainnya yang hampir sama adalah, saat saya mendapat nilai 70, orangtua saya meminta saya mendapat nilai 80. Saat saya mendapat nilai 80, orangtua saya meminta saya mendapat nilai 90. Saat saya mendapat nilai 90, orangtua saya meminta saya mendapat nilai 100. Sampai akhirnya setelah saya mendapat ranking 1 dan nilai 100, mereka meminta saya untuk mempertahankan. Mungkin orangtua menganggap itu adalah motivasi untuk anak, tapi tidak untuk saya.

Usia semakin bertambah dan pikiran saya pun semakin berubah, saya tidak mau lagi menyimpan suatu harapan terlalu tinggi, karena toh pada akhirnya tercapai atau tidaknya harapan tersebut, manusia tidak pernah puas dengan hasilnya. Masuk ke SMA dan kuliah, saya jadi manusia yang tidak suka menggapai sesuatu yang tinggi, saya tidak suka banyak berharap, saya tidak suka banyak bermimpi, saya tumbuh menjadi anak yang lebih suka dekat dengan realita. Saat SMA saya tidak peduli lagi harus mendapat nilai bagus atau engga, buat saya nilai standar aja udah cukup. Begitu juga saat masuk kuliah, saya pernah merasakan jatuh bangunnya mendapat nilai A B C D dan E. Disaat teman-teman saya menangis mendapat nilai C, saya masih bisa bersenang-senang walau mendapat nilai yang sama. Disaat teman-teman saya mengeluh karena IPK  turun dibawah 3, saya masih bisa ketawa-ketawa walau mendapat IPK dibawah mereka. Begitulah, bagaimana saya menikmati semua itu, menikmati prosesnya, menikmati keseruan hidup yang sudah begini adanya.

Cerita diatas adalah sedikit cerita tentang sebuah alasan dibalik kenapa saya memilih cinta tanpa harapan. Buat saya sebuah perasaan tidak akan lepas begitu saja, perasaan suka, sedih, kecewa, bahagia, juga perasaan cinta. Semua itu ada di hati. Sedangkan harapan ada di pikiran, melayang-layang tanpa tempat karena belum tercapai, menggantung berlama-lama karena sulit digapai. Jika ini sebuah hubungan, maka akan saya contohkan bahwa lebih baik tetap memiliki rasa cinta tanpa harapan daripada harapan tanpa cinta. Kenapa? Karena dengan rasa cinta tanpa harapan, kita masih bisa berjalan dengan rasa cinta yang lain walau berbeda subjek. Tapi kalau harapan tanpa cinta, kita terus menerus menggantungkan diri dan mengharap diri tanpa arah tujuan, terus saja berharap padahal rasa pun tidak ada. Tapi kan perasaan cinta bisa berubah? Tentu! Karena perasaan cinta bisa berubah, kita gatau dengan siapa kita jatuh cinta. Maka dari itu, saya lebih milih cinta tanpa harapan, karena perasaan cinta bisa berubah dan tidak dipaksakan dengan banyaknya harapan. Mau berharap yang pasti? Cuma sama Tuhan.

Kalau kamu, milih yang mana, cinta tanpa harapan atau harapan tanpa cinta? Eitssss selamat bermalam minggu!

NB :
Challenge ini dibuat oleh group whatsapp yang isinya saya, Adzhani, Gusti Fullah, dan Erdidik. Kita berempat bikin blog challenge dimana kita berempat harus memberi pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Okeeee sampai jumpa di pertanyaan selanjutnya! 😀

36 Comments

  1. maembie

    April 19, 2015 at 2:05 am

    Suka sama cara pandang kakak psikolog :D.

    Aku pikir tadi challenge ini bisa diberikan sama siapa aja yang mau memberikan untuk mengkonsultasikan permasalahannya sama kak Fasya. Ternyata dari grup whatsapp. Keren juga triknya biar ada postingan yang berbeda – beda.

    1. fasyaulia

      April 20, 2015 at 8:41 am

      Tapi saya bukan psikolog 🙁 saya mah apa atuh cuma sarjana psikologi aja hahaha

      Iya nih biar tetep konsisten menulis makanya diadain challenge ini, mudah2an next time bisa dibikin lebih luas cakupan nya 🙂

      1. maembie

        April 20, 2015 at 8:17 pm

        Kan sama itu kak. Makan kaca juga nih *Ngeyot kaca*

        Kali aja aku kebagian 😀

        1. fasyaulia

          April 20, 2015 at 8:38 pm

          Beda dong.. psikolog itu harus S2, sedangkan saya S1 jadi cuma sarjana psikologi (S.Psi). Kuliah kedokteran juga kalau cuma S1 gak disebut dokter kan? Di sebutnya sarjana kedokteran (S.Ked). Hehehe kalau gak paham, cek google 😛

          1. maembie

            April 20, 2015 at 8:41 pm

            Aku gak tau begituan kak 🙁 maap kalo aku salah ya.

  2. apemcomal

    April 19, 2015 at 7:22 am

    Saya pilih cinta tanpa harapan.

    1. fasyaulia

      April 20, 2015 at 8:41 am

      Ngikut aku ih anaknya teh, pasti ngefans hih

  3. febridwicahya

    April 19, 2015 at 10:13 am

    Tetep mbak, aku milih cinta tanpa harapan. Dan sekali lagi mbak, Tetep, aku suka sama pemikiranmu yang keren ala psikolog itu 😀

    1. fasyaulia

      April 20, 2015 at 8:45 am

      Kirain tetep milih Beby ternyata milih cinta tanpa harapan #lah hahaha saya juga lagi lagi cuma bisa bilang makasih Feb 😀

      1. febridwicahya

        April 22, 2015 at 2:15 pm

        Ya ampun mbak :p wkwkw pilihannya nggak di tulis di postingan sih kalau ada Bebynya :p
        kamu keren, Mbak Fasya 😀

  4. darsonogentawangi

    April 19, 2015 at 10:30 pm

    Bingung juga milih yang mana….
    Tapi setelah melihat,menimbang, dan memperhatikan, maka saya pilih…………………………………………………….. CINTA TANPA HARAPAN, TAPI CINTA DENGAN KEINDAHAN….
    walah…. ngawur ki!
    Hihihihi….

    1. fasyaulia

      April 20, 2015 at 8:46 am

      Hahahahaha mas yang satu ini emang suka ngawur kan 😛

      1. darsonogentawangi

        April 20, 2015 at 9:33 am

        Hahahahaaa….. tahu ajah 😉

  5. TIRS

    April 19, 2015 at 11:37 pm

    “saya tidak mau lagi menyimpan suatu harapan terlalu tinggi, karena toh pada akhirnya tercapai atau tidaknya harapan tersebut, manusia tidak pernah puas dengan hasilnya.”

    Bener banget! Dan dari postingan ini gua baru sadar kalo gaya pemikiran sama gua kayak lu, Teh. Nikmatin hidup sebagaimana jalannya. :))

    1. fasyaulia

      April 20, 2015 at 8:48 am

      Ho-oh, dapet C pengen B, dapet B pengen A. Jadi lupa bersyukur deh karena ga pernah puas.

      Ah kenapa sih pemikiran kita sama? Kita gak jodoh kan? Apa kita adik kakak yang terpisah?

  6. shiq4

    April 20, 2015 at 12:46 am

    Ternyata ada orang yang memiliki sifat seperti saya. Memang benar jika memiliki harapan terlalu tinggi bisa sakit jatuhnya kalau tidak kesampaian.

    1. fasyaulia

      April 20, 2015 at 8:50 am

      Sama aja apa sama banget? Hahaha iya begitulah, makanya kalau ada orang punya harapan tinggi dan siap menerima rasa sakit saat jatuh, mereka hebat! Sayangnya saya engga gitu, hehe 🙂

  7. iraajummah

    April 20, 2015 at 8:34 am

    wahh.. kita sama nih… pernah punya masalah dengan namanya harapan. hihihi

    btw, hidup itu ternyata paradoks yah…? Harapan adalah sumber dari motivasi, semangat dan cita-cita yang tinggi. tapi harapan juga sumber dari rasa sakit dan kecewa juga.

    Selamat Hari Senin 😀

    1. fasyaulia

      April 20, 2015 at 8:53 am

      Mungkin semua orang pernah punya masalah dengan harapan, tapi beda kelanjutannya aja hehe.

      Sama kaya jatuh cinta ya? Jatuh cinta salah satu sumber kebahagiaan, tapi jatuh cinta juga sumber rasa kecewa dan sakit. Yaaaah apapun bentuknya entah itu harapan atau jatuh cinta atau yang lainnya, rasa kecewa dan sakit hati bisa muncul kapan saja sih hehehe.

      Selamat hari Senin juga ahjuma cantik 🙂

      1. iraajummah

        April 20, 2015 at 9:04 am

        iyup… ada orang yang semakin kecewa semakin berharap. ada juga yang semakin gak percaya sama harapan. hehe

        Nah kah?? Benar-benar paradoks hidup ini….

  8. TitinTrisnawati

    April 21, 2015 at 10:17 am

    Bingung juga pilih yang mana 🙁 … salam kenal kak 🙂

    1. fasyaulia

      April 21, 2015 at 8:17 pm

      Jangan bingung, ini bukan ujian hehehe salam kenal juga ya 🙂

  9. Kresnoadi DH

    April 21, 2015 at 8:35 pm

    Aku juga pilih itu, mbak. *ikut2* hehee. Bener banget tuh yang soal nilai, yang ngerasa nggak puas itu sebetulnya bukan kita, tapi orang-orang di sekeliling yang ngarepin banyak hal ke kita. Jatuhnya kalo nggak kuat malah jadi beban. Untung aku orangnya cuek begituan. Hahaha.

    1. fasyaulia

      April 23, 2015 at 12:03 am

      Kenapa sih ngikut-ngikut? Gak boleh ah hahaha. Iya karena kita tidak suka diperlakukan seperti itu, semoga kelak, saya atau kamu sebagai generasi yang keren jangan sampai melakukan hal yang sama 😀

  10. Beby

    April 22, 2015 at 6:28 pm

    Sama, Syaaaa.. Aku jugak kalok ngarep sekarang takut ketinggian. Jadi kayaknya yang standar aja lah, yang penting kesampean. Huahahah.. 😀 *anaknya pesimis*

    1. fasyaulia

      April 22, 2015 at 11:59 pm

      Gak pesimis kok, semua orang punya ketentuan sendiri-sendiri. Punya harapan standar aja, kita kan tetap optimis bakalan kesampaian. Jadi no problem, hehehe 😀

      1. Beby

        April 29, 2015 at 10:22 am

        Wahahah.. Bener jugak yah. Bedanya, standar tentang si harapan itu lebih menyempit 😀

  11. pertiwiyuliana

    April 25, 2015 at 2:23 am

    Aku pilih Kak Er, aku pilih cinta tanpa harapan.

    1. fasyaulia

      May 6, 2015 at 11:40 pm

      Wih Erdidik ada yang milih hahaha mudah2an dia milih kamu #lah

  12. cumilebay.com

    April 27, 2015 at 11:51 am

    Aku milih cinta dan berharap akan datang harapan #halah #maksa

    1. fasyaulia

      May 6, 2015 at 11:41 pm

      Aku mau itu juga kak! Hahaha

  13. Salman Faris

    April 29, 2015 at 12:31 am

    sempurna itu relatif dimata manusia Mba, tapi yang sempurna cinta kepada Tuhan *aduh lebay deh akuh* hehehe

  14. katamiqhnur.com

    April 29, 2015 at 1:59 am

    hallo, salam kenal. mampir balik yaa!!

  15. Gatsby

    May 8, 2015 at 2:44 am

    Duh kalau sya ditanya kyak gitu kak, mungkin setahun baru kelar. 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: