Bunga mekar

Satu rangkai bunga membuat hari ini menjadi lebih berarti. Aku menyusuri perjalanan untuk menemuimu. Kepadamu yang hari-hari nya bahagia tanpa air mata. Aku membawa senyuman cinta yang telah ku siapkan agar mentari tak jemu menyambutku. Aku selalu berjalan setiap kali menemuimu. Karena, langkah kaki ini adalah saksi dimana jarak tak membuat aku lelah menunggu asa. Walau terkadang, aku berbohong kepada maya untuk tetap menjaga keutuhan yang menyimpan sisa.

Menelusuri tanah merah yang bersemayam tenang, menghilangkan ketakutan yang semakin berperang, menyanyikan lagu romansa untukmu hingga kita berpelukan dengan hangatnya mentari siang.

Karena kata-kata, semua menjadi pengingat manis yang selalu hadir ketika aku datang. Batin ini yang menyapa, mata ini yang memandang rupa. Aku dan kamu bercanda dalam kenangan yang sudah tenggelam. Seperti bunga yang tak kembali mekar, menggantinya adalah caraku untuk memberi rasa yang tak pernah terhapus.

Antara aku dan bunga di makam. Sekedar sajak.

7 Comments

  1. Rizqi Fahma

    November 18, 2012 at 6:46 pm

    Efek dari “Calm and Date a Psychologist” πŸ™‚

  2. Sugito Kronjot

    November 18, 2012 at 6:58 pm

    mengomentarinya adalah caraku untuk memberi kata yang tak pernah terhapus.

    *ups
    *ketularan

    1. fasyaulia

      November 18, 2012 at 8:06 pm

      membalasnya adalah caraku untuk memberi kesan berupa tulisan, aku belum mampu membalasnya secara lisan..

  3. Raf

    November 19, 2012 at 10:11 am

    Bunga, makam, dan duka… Hiks….

Leave a Reply

%d bloggers like this: