Ruang puisi

Membaca puisi membuat jatuh cinta. Menulis puisi membuat jatuh air mata. Mengkhayati setiap kalimat dalam puisi membuat berpikir mencari makna. Mendengarkan puisi membuat angan terbang mencuri awan bayang. Dilihat dari sekitar puisiku tersenyum. Diberi komentar puisiku membalas. Dipandang sebelah mata puisiku menunduk malu. Bukan kucing mengelus pipinya. Tapi puisiku mengelus setiap kata, kalimat, dan paragraf untuk yang pernah berlalu. Dibiarkan sekitar menikmati karya dari-Nya untuk setiap rindu yang tertahan. Puisiku menjadi saksi. Tanganku menjadi matanya. Jariku menjadi denyut jantungnya. Kefanaan ini tersimpan dalam suatu nafas. Beberapa paragraf dalam kotak berwarna, menyimpan setiap barisan. Sungguh dalam relung ini, masih ingin menggapai kepastian akan cinta nya pada puisi. Tidur mengingatkan, awal dimana puisi menjadi tempat membangun nya pembelajaran diri. Mencinta mengingatkan, awal dimana puisi menjadi tempat mengalirnya air mata. Abu-abu mengingatkan, awal dimana puisi menjadi tempat berbagi cerita media perguruan. Sahabat mengingatkan, awal dimana puisi menjadi suatu pencerahan di kala gelap. Ruang mengingatkan, awal dimana puisi menjadi harapan untuk kenyataan. Hanya aku yang tau. Dan hanya aku yang meyakini.  Ruangan untuk menjelma menjadi bait. Dari aku.

Leave a Reply

%d bloggers like this: